Peserta pelatihan Mind Power menguji kemampuan mematahkan sebatang besi pompa dengan beberapa lembar koran. "Masa sih, potongan ubin keramik bisa patah diadu dengan bohlam? Kok bisa ya, gulungan koran mematahkan sebatang besi?" ujar Endi terheran-heran menyaksikan atraksi teman-temannya. Endi adalah salah satu wartawan peserta yang mengikuti pemaparan tentang "Mind Power: Mengungkap Kekuatan Otak yang Tersembunyi" di Lembaga Manajemen PPM Jakarta, Senin (15/1). Pada uji coba pertama mematahkan batangan besi pompa air, Endi gagal. Namun pada kesempatan kedua, dia berhasil. Bagaimana mematahkan potongan besi dengan gulungan kertas koran? Secara logika, perbuatan itu memang mustahil. Tetapi jika dilakukan dengan segenap keyakinan, niscaya hal itu dapat terjadi. Pikiran sesungguhnya mengandung kekuatan tersembunyi. Fenomena-fenomena ganjil seperti berjalan di atas api atau mematahkan tumpukan bata dengan tangan sering sukar dicerna logika. Namun perbuatan itu adalah hasil kekuatan pikiran yang dihasilkan oleh otak. Tanpa disadari, otak manusia menyimpan kekuatan besar. "Ada seorang mahasiswa yang berhasil menurunkan berat tubuhnya dari 80 kg menjadi 72 kg hanya waktu dua bulan. Itu bukan dilakukan tanpa diet. Dia hanya katakan kepada dirinya sendiri pada tanggal sekian, berat tubuh saya sekian," tutur Ir Sumartoyo MSM DBA. Menurut pengajar mata kuliah Effective Learning itu, sebutan gemuk atau gendut sebetulnya hanya karena pikiran. Orang yang sering disebut gendut akan menganggap dirinya gendut. Karena itu, orang sebenarnya dapat memanfaatkan kekuatan pikiran. "Kalau dijadikan persisten dan disertai keinginan kuat, pikiran bawah sadar akan bekerja sama. Meskipun tidak diet, seseorang tanpa sadar menolak makanan tertentu. Selain itu, makanan yang dicerna akan langsung keluar tanpa diambil sarinya," staf profesional Lembaga Manajemen PPM Jakarta yang mendalami bidang Decision Science itu menambahkan. Penjelasan secara logis mengenai banyak fenomena ganjil telah lama dikaji ilmuwan Barat. Dr Paul MacLean, misalnya, menyebut pembagian otak tengah atau sistem limbik sebagai tepat mengendalikan hormon-hormon. Tugas otak tengah juga mengatur emosi dan ingatan jangka panjang. Itulah sebabnya, peristiwa lampau yang mungkin membuat seseorang sangat sedih atau senang lebih cepat diingat kembali. Pikiran digolongkan dalam kondisi sadar, bawah sadar dan suprasadar. Berdasarkan denyut gelombang otak, kondisinya terbagi menjadi beta (13-28 cps), alpha (7-13 cps), theta (3,5-7 cps) dan delta (0,5-3,5 cps). Kondisi beta muncul saat seseorang sedang bekerja atau dalam waspada atau cemas. Kondisi theta muncul ketika seseorang sedang memusatkan satu perhatian. Sementara kondisi alpha muncul ketika orang dalam keadaan setengah mengantuk, menjelang tidur, relaksasi atau meditasi. Lalu kondisi delta terjadi ketika orang dalam keadaan tidur pulas. Sumartoyo menjelaskan seseorang yang berada dalam kondisi alpha akan memberikan banyak manfaat. Seseorang mampu melakukan tindakan yang dianggap mustahil menjadi mudah dilakukan. Pemograman bawah sadar akan menjadikan individu senantiasa optimistis dan jauh dari berputus asa. Bahkan banyak negara Eropa Timur yang sengaja melatih para atletnya dalam kondisi alpha. Hasilnya mereka mampu mencapai prestasi yang mengejutkan.
Perlu Latihan
"Mind power secara umum digunakan untuk melatih diri agar memiliki keyakinan. Secara khusus, orang bisa menggunakannya untuk belajar atau pengobatan. Ini persoalan skill, jadi ya perlu latihan. Buat orang yang berpendidikan tinggi, sering kali hal ini justru menjadi sulit. Namun orang berpendidikan rendah sering kali justru lebih mudah melakukannya karena mereka begitu saja percaya," katanya.
Kekuatan pikiran sempat teruji dalam sejumlah kasus. Sumartoyo menyebutkan salah satu peserta kuliahnya berhasil menyembuhkan dirinya dari tumor. Peserta lain mencoba mind power untuk mengusir nyamuk dan semut-semut merah yang menghuni rumahnya. Bahkan ada seorang peserta menggunakan mind power untuk menemukan butiran berlian milik istrinya yang hilang di rumah.
"Dia hanya konsentrasi sebentar, lalu menyapa semut-semut itu seolah seperti teman. ‘Semut-semut tolong carikan berlian istriku. Setelah sembilan hari, tahu-tahu di depan rumah ada gundukan pasir kecil. Di pucuknya, ada sebutir berlian yang dicari-cari. Rupanya semut-semut itu yang menaruhnya di sana. Sebagai wujud terima kasih, dia menaruh sepotong cokelat di sana. Coba bayangkan betapa indahnya keharmonisan semesta ini," paparnya.
Meskipun menjadi pengajar mind power, Sumartoyo mengaku tak selalu bisa mempraktikkannya. Kasus mengusir semut dan tikus lalu dicobanya untuk mengusir kecoa-kecoa di rumah. Alih-alih bersih dan rapi, kecoa justru malah bertambah banyak. Itulah sebabnya, keinginan yang ditanamkan dalam pikiran atau doa perlu "pengamanan".
"Ada cerita orang punya utang 10 ribu dolar dan dia tidak bisa bayar. Dia lalu berdoa agar punya uang 10 ribu dolar. Doanya terkabul setelah dia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan dua tangan. Masing-masing tangannya diasuransikan 5 ribu dolar. Jadi sebaiknya, kalau berdoa katakan saja ‘Biarkan hal ini atau yang lebih baik terjadi padaku dengan cara yang harmonis dan memuaskan semua pihak’. Katakan seolah-olah itu sudah terjadi atau berprasangka baik," tuturnya.
Menurut Sumartoyo, pemograman bawah sadar lewat kondisi alpha akan membuat seseorang berpikir positif dan memiliki keyakinan tinggi. Pentahapannya dilakukan lewat afirmasi dan visualisasi bawah sadar. Jadi, kalau punya impian memiliki mobil, bayangkan saja dalam bawah sadar, logika tidak perlu dilibatkan.
"Kalau kita percaya, bawah sadar kita akan kerja sama. Seorang filsuf di Inggris mengatakan kalau orang meyakini sesuatu akan terjadi maka alam semesta akan bersekongkol untuk membuatnya terjadi. Termasuk jika kita percaya sesuatu akan gagal. Alam akan menuruti keinginan itu. Maka dari itu, berdoalah dengan penuh rasa percaya," sarannya.
Sumartoyo menambahkan relaksasi untuk menciptakan kondisi alpha dapat dicapai dengan media bantu. Penggunaan bunyi musik instrumen yang lembut, bunyi gemericik air, aroma terapi, atau posisi duduk bersila merupakan beberapa cara yang bisa digunakan.
"Meditasi seperti ini bukan ajaran agama. Semua ini bisa dilakukan siapa saja. Doa yang kita lakukan bisa didukung oleh mind power ini. Tetapi banyak doa tidak terkabul karena orang memanjatkannya tanpa rasa syukur dan tidak yakin," ujarnya.
* * *
Suara Pembaruan, 16 Januari 2007.